Detail Masalah

Hasil kajian dan pembahasan.

Batas Sholat Isyroq/ Syuruq

Fiqh Sholat 08 November 2025 96 Dilihat

Batas Sholat Isyroq/ Syuruq

 

A.   Rumusan Masalah

1. Assalamu'alaikum wr.wb Ustad, mohon pencerahan, sepemahaman saya waktu syuruq (terbit) dihitung 1 jam 15 menit dari waktu subuh, batas waktu boleh melaksanakan Shalat Syuruq berapa lama sampai waktu tidak diperkenankan shalat sampai waktu masuk dhuha

B.   Uraian Bahasan

- Mengenai bahasan batas waktu Sholat Syuruq maka kita perlu mengetahui apakah Sholat Syuruq itu juga Sholat Dhuha, uraiannya sebagai berikut :

1. Didalam kitab Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah dijelaskan :

ففي منهاج الطالبين وشرحه المحلي قال :

من النوافل التي لا يسن لها الجماعة : الضحى : وأقلها ركعتان ، وأكثرها اثنتا عشرة ركعة ، ويسلم من كل ركعتين ، قال القليوبي تعليقا على قوله : (الضحى) هي صلاة الأوابين وصلاة الإشراق على المعتمد عند شيخنا الرملي وشيخنا الزيادي ، وقيل : كما في الإحياء : إنها (أي صلاة الإشراق) صلاة ركعتين عند ارتفاع الشمس

وفي عميرة قال الإسنوي : ذكر جماعة من المفسرين . أن صلاة الضحى هي صلاة الإشراق المشار إليها في قوله تعالى : يسبحن بالعشي والإشراق) أي يصلين ، لكن في الإحياء أنها غيرها ، وأن صلاة الإشراق ركعتان بعد طلوع الشمس عند زوال وقت الكراهة

[الموسوعة الفقهية الكويتية، المجلد: 1, ص. 132 - 133]

Dalam kitab “Minhāj ath-Thālibīn” beserta syar-nya (penjelasan) oleh Imam al-Maallī, disebutkan:

“Termasuk shalat-shalat sunnah yang tidak disunnahkan berjamaah adalah shalat Dhuha.

Jumlah paling sedikitnya dua rakaat, dan paling banyak dua belas rakaat, serta disunnahkan salam setiap dua rakaat.”

Kemudian al-Qalyūbī memberikan komentar terhadap perkataan ‘(shalat) Dhuha’ tersebut:

“(Shalat Dhuha) itu adalah shalat al-Awwābīn dan shalat al-Isyrāq, menurut pendapat yang mu‘tamād (kuat) di sisi guru kami ar-Ramlī dan az-Ziyādī.

Namun dikatakan — sebagaimana dalam kitab Iyā’ ‘Ulūm ad-Dīn — bahwa shalat Isyrāq adalah dua rakaat yang dikerjakan ketika matahari telah naik (yakni setelah lewat waktu makruh).”

Dan dalam Hāsyiyah ‘Umayrah disebutkan:

Al-Isnawī berkata:

Sekelompok mufassir menyebutkan bahwa shalat Dhuha itu sama dengan shalat Isyrāq, yang ditunjukkan oleh firman Allah Ta‘ālā:

{يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالإِشْرَاقِ}

yakni: mereka (para malaikat) bertasbih, maksudnya ‘shalat’.

Akan tetapi, dalam Iyā’ (Iyā’ ‘Ulūm ad-Dīn karya Imam al-Ghazālī) disebutkan bahwa keduanya berbeda, dan bahwa shalat Isyrāq adalah dua rakaat yang dilakukan setelah terbitnya matahari, yaitu ketika telah hilang waktu makruh.”

صلاق الإشراق

بتتبع ظاهر أقوال الفقهاء والمحدثين يتبين : أن صلاة الضحى وصلاة الإشراق واحدة إذ كلهم ذكروا وقتها من بعد الطلوع إلى الزوال ولم يفصلوا بينهما

 وقيل : إن صلاة الإشراق غير صلاة الضحى ، وعليه فوقت صلاة الإشراق بعد طلوع الشمس ، عند زوال وقت الكراهة

[الموسوعة الفقهية الكويتية، المجلد: 1, ص. 221-222]

"Dengan menelusuri zāhir (lahiriah) perkataan para fuqahā’ (ulama fikih) dan para muadditsīn (ahli hadis), tampak bahwa shalat Dhuha dan shalat Isyrāq adalah satu (shalat yang sama).

Hal ini karena mereka semua menyebutkan waktunya dimulai setelah terbit matahari hingga menjelang zawāl (tergelincir matahari ke barat), dan tidak membedakan antara keduanya.

Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa shalat Isyrāq berbeda dengan shalat Dhuha.

Menurut pendapat ini, waktu shalat Isyrāq adalah setelah terbitnya matahari, yaitu ketika telah hilang waktu makruh (yakni sekitar 10–15 menit setelah matahari tampak terbit di ufuk).

2. Juga dijelaskan dalam Hasyiyah Asy Syarqowi Syarh Tuhfah At Tullab:

قوله: (قال ابن عباس صلاة الإشراق صلاة الضحى هو المعتمد، وقيل غيرها قال

في العباب ركعتا الاشراق غير الضحى ، ووقتها عند الارتفاع. انتهى. فوقتها على هذا هو وقت صلاة الضحى وعليه فيندب قضاؤها إذا فاتت لأنها ذات وقت

Perkataannya:

“Ibnu ‘Abbās berkata: Shalat Isyrāq adalah shalat Dhuha — dan inilah pendapat yang mu‘tamād (dipegang kuat).”

Namun, ada yang berpendapat lain, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-‘Ubbāb:

“Dua rakaat shalat Isyrāq berbeda dengan shalat Dhuha, dan waktunya adalah ketika matahari telah naik (tinggi sedikit setelah terbit).” Selesai (kutipan).

Maka berdasarkan pendapat ini, waktu shalat Isyrāq sama dengan waktu shalat Dhuha,

dan karena itu disunnahkan untuk mengqadha (mengganti) shalat Isyrāq jika terlewat,

karena shalat ini memiliki waktu tertentu

3. Waktu Terbit Matahari kurang lebih 15 menit, disebutkan di dalam Al Bayan War Ta’rif Syarh Al Mukhtashor Ash Shoghir dalam bab waktu sholat yang dimakruhkan :

عِنْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ حَتَّى تَرْتَفِعَ قَدْرَ رُمْحٍ فِيمَا يَظْهَرُ لَنَا، وَالرُّمْحُ سَبْعَةُ أَذْرُعٍ تَقْرِيبًا، وَهُوَ يُسَاوِي أَرْبَعَ دَرَجَاتٍ فَلَكِيَّةً، وَالدَّرَجَةُ الْفَلَكِيَّةُ تُسَاوِي أَرْبَعَ دَقَائِقَ.

“(Waktu terlarang shalat adalah) sejak matahari terbit sampai ia naik setinggi satu tombak menurut penglihatan kita.

Adapun satu tombak kira-kira tujuh hasta, dan itu setara dengan empat derajat astronomis, sedangkan satu derajat astronomis setara dengan empat menit (waktu).”

 

 

 

 

C.   Kesimpulan

1. Ada 2 pendapat yang berselisih antara anggapan sholat syuruq itu sholat dhuha atau sholat tersendiri :

·         Sholat Syuruq Termasuk Shalat Dhuha; Pendapat Ibnu Abbas, Al Qalyubi, Ar Ramli, Az Ziyadi, Al Isnawi, juga beberapa Ahli Fiqh dan Ahli Hadits.

·         Sholat Syuruq Adalah Sholat tersendiri yang waktunya terbatas ketika terbit saja kurang lebih 15 menit; Pendapat Abu Hamid Al Ghazali.

2. Maka Lajnah Bahtsul Masaail dibawah Majelis Syar’i PPTQ Ar Royyan memutuskan bahwa lebih afdholnya Sholat Syuruq hanya dilaksanakan di waktu syuruq saja yaitu sekitar 15 menit atau boleh sampai 30 menit, dan disyaratkan harus sholat shubuh secara berjama’ah, berikut akan kami berikan gambarannya.

3. Contoh Gambaran jika di Indonesia :

Terbit Fajar (Awal Shubuh)

04.30

Terbit Matahari (Awal Syuruq/Akhir Shubuh)

05.45

Akhir Syuruq/ Awal Dhuha

06.00 (kurang lebih)

Waktu Afdhal Dhuha

08.00-10.00

Akhir Dhuha (Sebelum Zawal)

11.30 (kurang lebih)

 

 

 

 

 

والله أعلم بالصواب

 

Filter Pencarian
Beranda Filter Ajukan Donasi